Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label time line. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label time line. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Januari 2015

ULASAN FILM/MOVIE CLOUD ATLAS






Berikut ulasan saya mengenai Movie/Movie Cloud Atlas

HARAP DIPERHATIKAN BAHWA CATATAN INI MENGANDUNG SPOILERS!!
BAGI YANG BELUM NONTON SEBAIKNYA MENGHINDARI CATATAN INI!!
JIKA TETAP MEMBACANYA, RESIKO DITANGGUNG SENDIRI!!!

Ok. Sebenarnya ulasan movie ini agak telat. Awal liat dan dengar movie ini agak gimana~ gitu~. Saya emang nggak liat trailernya atau baca sinopsisnya. Soalnya pas liat posternya, yang terbersit di benakku adalah hal yang berkaitan dengan sirkus.  Malas~~ Saya punya perasaan nggak enak kalo soal movie yang ada kaitannya dengan sirkus, apalagi poster Cloud Atlas tampilannya agak bernuansa gelap gitu. Hahahaha. Inilah kejelakan dari sikap nggak mau tahu. Akhirnya setelah menonton, tak ada satupun hal yang berkaitan dengan sirkus di dalamnya.

                Yah… Saya nggak tahu harus mulai darimana membahas movie ini. Oh! Saya baru tahu kalau movie ini adalah movie independen! WOW! Sangat mahal juga budget-nya! Nggak tanggung-tanggung $ 102 juta  dipakai buat movie ini, meski akhirnya laba kotornya tak bisa dibilang ‘wuah’ setelah dikurangi dengan budget-nya. Kurasa, bukan masalah budget-nya yang menjadi pemikiran bagi para pembuatnya. Tapi, bagaimana usaha mereka yang berjuang mati-matian sampai Cloud Atlas akhirnya mendapati endingnya. Saya takjub ketika membaca di Wikipedia kalau ini adalah movie independen. WOW! Sangat luar biasa!

Ok. Sudah cukup basa-basi trivia mengenai movie ini. Jujur saja. Tema movie ini sudah akrab dengan saya minggu ini. Tentang, “Cinta (biasanya tentang cinta yang mustahil, buktinya di movie ini menceritakan cinta sesama jenis), masa lalu, masa kini, dan masa depan.” Saya rasa tak usah panjang lebar membahas tentang tema ini lagi. Sudah saya bahas sebelumnya lebih di Predestination, yaitu bagaimana pilihan dan keputusan kita mempengaruhi time line kita. Hanya saja di predestination, hanya orang secara khusus yang di bahas, kalau di movie ini melingkupi banyak pihak. Istilahnya seperti efek domino, yang jatuhnya satu akan mengenai yang lain tiada henti, terkecuali kiamat terjadi—Dan apakah setelah kiamat efek domino itu ada jaminan akan berhenti? Sepertinya tidak. Khususnya dalam Agama Islam. Setelah mati, manusia akan diproses sebelum diputuskan apakah ia akan masuk surga atau neraka melalui proses Hisab. Dan proses hisab itu tak luput dari efek orang lain dalam hidup kita. Kalau dibayangkan, sungguh mengerikan efek domino ini, ya?

Sebenarnya, saya tak tahu harus bicara apa lagi mengenai movie ini. Ada banyak yang saya tangkap mengenai issue sosial dalam movie ini, hanya saja, karena time line yang berbeda dan sering melompat-lompat, beberapa issue itu jadinya tertelan oleh issue yang lain dari time line yang berbeda, jadinya lupa dan fokus ke crita yang lain—tentunya akan ada banyak yang kebingungan dengan movie satu ini. Saya secara pribadi, bukannya bingung bagaimana, sih, karena sejak kemunculan Sang Tokoh Zachary, inti movie ini adalah flashback. Mungkin sebagian penonton akan terheran-heran, apalagi dengan kostum dan dandanan Zachary yang terkesan jaman purba gitu! Hahaha. Saya nggak heran, ada beberapa movie yang saya nonton yang saling menyilangkan peradaban purba dan modern, bukan dalam konteks harfiah, hanya saja tema dan gayanya saja. 

Baiklah. Saya akan coba mengulas beberapa yang saya masih ingat. Ok. Pertama mengenai kehadiran Perempuan berkulit hitam di lembah Zachary, dari pertemuan ini, adanya perbedaan kulit adalah masalah sosial yang masih terjadi di sekitar kita, ntah itu minor atau tidak. Hal ini jelas disinggung dari percakapan Si Georgie Tua pada Zachary:

“She ain't your tribe! She ain't even your color!”

Disini disinggung isu kepercayaan antara perbedaan kulit. Bukan saja masalah itu yang saya rasa disinggung dalam percakapan ini. Namun juga perbedaan dalam berbagai lapis dan bentuk. Ntah suku, agama, dan ras, ataupun antar golongan. Kita diminta jangan menilai seseorang dari sisi negatifnya saja hanya karena perbedaan tersebut. Lahirnya pemikiran stigma jelek terhadap suatu kaum itu karena perbuatan dari individu itu, bukan secara keseluruhan. Manusia ketika disodorkan satu hal negatif, meski ada berjuta-juta hal positif di dalamnya, yang jadi pusat perhatiannya adalah hal negatif tersebut, seperti yang dikatakan oleh Ibrahim Elfiky bahwa otak manusia hanya fokus pada satu pikiran dan saat itu hal lainpun di kesampingkan. Perbedaan hadir bukan karena tanpa alasan. Mengenai perbedaan, hal itu juga disinggung pada Fabricant. Yoona dan Sonmi, kloning dengan wajah yang serupa ada dimana-mana dengan hanya tujuan menjadi budak bisnis. Sosok kloning ini menggambarkan pada kita, bahwa meski ada orang yang serupa dengan kita, entah kembar atau tidak, tindakannya akan berbeda dengan kita sendiri. Yang berperan penting dalam hal ini adalah perasaan. 

Movie ini mengajarkan bahwa apapun tindakan kita saat mengambil pilihan dan keputusan, akan berdampak pada diri kita dan orang lain. Contoh yang jelas dalam movie ini adalah sikap tolong menolong. Jangan pelit-pelit menolong orang, deh. Inti dari menolong orang itu sebenarnya adalah menolong diri kita sendiri.  Saya rasa, movie ini cukup jelas menggambarkan  bagaimana efek menolong orang, menolong sesama manusia. Karena pada akhirnya, segala perbuatan kita, akan kembali pada kita sendiri layaknya bumerang. Penyesalan dari tindakan tak menolong orang lain tergambar disaat Zachary ditodong senjata tajam sesaat perkampungannya diserang suku Kano. Gambaran masa lalu disaat ia tak menolong Adam dan  Jonas terlintas kembali dalam pikirannya. Ia selamat berkat pertolongan gadis berkulit hitam, yang awal-awalnya kalau tak salah hitung telah ditolongnya dua kali. So, menolong seseorang apa salahnya, guys? Jangan malas dan egois, deh! Yang rugi, ya, kamu sendiri, tak mau menolong dirimu sendiri di masa depan. Ini bukan isapan jempol belaka, coba kalian pikir-pikir tentang orang yang menolong kalian dan yang kalian tolong? Bagaimana? Cukup terkesan? Kalau belum, mungkin kalian tidak memikirkannya baik-baik dan kurang tanggap (atau lagi belum terbalas saja. Hehehe). Menolong orang lain itu sebenarnya adalah investasi masa depan. Jadi, jangan sungkan menolong orang, ya! Yah, jangan juga sampai dimanfaatkan, deh,! Pintar-pintar bawa diri aja, ya!

Georgie tua dalam movie ini saya pikir adalah manifestasi dari pikiran-pikiran negatif manusia. Apakah dia nyata atau tidak, itu bukan intinya, tapi hal-hal negatif itu memang jelas ada dan nyata. Ketika dampaknya memberikan efek buruk pada diri kita, yang semula hanya khayalan, maka akan memiliki bentuk yang nyata dan membuat kita mengalami perasaan pasang surut.

Hanya saja, saya agak sedikit kecewa, ada beberapa adegan n*de dan serupa yang sebenarnya nggak perlu dan hanya membuang-buang waktu saja. Dan itupun tak terlalu intense, sehingga feels-nya nggak kena, yah, bukan maunya apa, tapi, bisa saja dibuat adegan yang lebih menyampaikan cinta, utamanya scene Sonmi dan Hae Joo, ada cara yang lebih baik dan romantis ketimbang harus berbug*l ria di depan kamera. Itu toh juga nggak bakal menjadi ‘wuah’ banget bagi sebagian orang, malahan hanya menganggung saja (Saya jatuh hati pada karakter Hae Joo, yang notabene ternyata….. hahahahaha *guling-guling).

Sonmi, jika kalian perhatikan memiliki tanda lahir seperti musisi yang bunuh diri itu. Ada yang bingung sampai heran kenapa Sonmi yang kloning memiliki tanda lahir juga? (Ini tanda lahir aneh, banget, kutukan, atau apa, sih? Kok bentuknya hampir sama dari generasi ke generasi?) juga pada reporter itu yang memiliki tanda lahir yang unik. Mungkin saja leluhur Adam Ewing, jatuh cinta pada pria kulit hitam yang punya sejarah dengan pria kulit hitam sebagai penumpang gelap? Yang masih misteri adalah Zachary dan perempuan berkulit hitam itu silsilahnya berasal dari siapa? Saya tak sempat perhatikan baik-baik, karena lagi flu dan kepala sedikit tak fokus. Hehehehe.  

Tapi, kalo saya kasih komentar, Zachary adalah generasi Adam Ewing, bukti saya adalah kancing yang dimilikinya dari jas Ewing, yang seperti dijadikan barang pusaka—mungkin sebagai cindera mata atas peristiwa yang terjadi di atas kapal.  Kancingnya sudah diambil satu, mungkin sisanya dijadikan barang pusaka atau memorial pribadi. Dan gadis berkulit hitam mungkin adalah generasi dari budak yang menolong Ewing dari dokter gila harta. Disini berusaha diungkapkan meski butuh beberapa tahun dan generasi lewat, kebaikan yang kita lakukan tidak akan mati, namun akan bereinkarnasi  di masa depan. Bahwa anak cucu kita akan mendapat balasannya.  Singkatnya, gambaran semua itu adalah karma. Karma itu nyata, dan berpengaruh pada anak cucu kita.  Seperti yang dikatakan Sonmi tanpa embel-embel dan terus terang:

“And so to know thyself is only possible through the eyes of the other. The nature of our immortal lives ...and deeds that go on apportioning themselves... ...throughout all time is in the consequences of our words”

Dan kata-kata lainnya yang memang benar. Ketika kematian terjadi, sebenarnya ada banyak pintu yang terbuka. Peribahasa yang nggak asing ditelinga kita. Yaitu, mati satu tumbuh seribu. Sonmi mengatakan tentang hidup dan jalinan kita semua melalui kata-katanya:

“Our lives are not our own. From womb to tomb, we are bound to others."

Perbuatan, tindakan, dan keputusan kita pada akhirnya akan berpengaruh pada orang lain. Saya menyebutnya, efek domino abadi. Tak akan ada habisnya dalam memengaruhi kehidupan seseorang, walau pada hal kecil apapun, termasuk ketika kalian menginjak semut.  Yah, beberapa mungkin menyebutnya Butterfly effect, hal kecil yang memengaruhi hal besar. Sekiranya seperti itu. Hal itu juga pernah disinggung dalam sebuah movie bertema time travel yang berjudul “A Sound of Thunder”. Movie ini sempat menjadi movie yang cukup lama bertengger di hatiku. Hehehe. Penjelasannya mengenai efek merubah masa lalu, seperti efek tetesan air, dimana riaknya lama-kelamaan meluas, tapi tentu saja, kalo setelah dipikir-pikir, paradoksnya terlalu ganas untuk dibahas. Hahahaha.

Saya tak bisa membuktikan siapa generasi siapa, untung saja generasi Adam punya tanda lahir. Ini yang memudahkan kita untuk mengenalinya, seandainya saja semua generasi di semua time line memperlihatkannya, sayangnya tak semua ditunjukkan, dan lebih memilih main petak umpet. Gadis berkulit hitam yang menolong Zachary, saya tak perhatikan apa dia memiliki tanda lahir atau tidak. Kalau tak ada, artinya entah dari generasi cinta lama yang bersatu dalam bentuk lain atau dari generasi budak yang kabur, yang pada akhirnya menjadikannya saling tolong menolong selama sisa hidup mereka. Saya tak tahu apakah Frobisher mengambil nama samaran sebagai Ewing dari leluhurnya atau apa, tapi dia tonggak dimana lahirnya si Sonmi ini. Yah, Kan si musisi tua itu mandul.  Yang jadi perhatianku, adalah generasi Si Sixsmith dimana perannya di masa depan??? Apakah sudah silang dengan generasi yang lain??

                Yah… intinya, berlaku baiklah pada orang, karna karma itu nyata. Mungkin kita tak akan mendapatkan balasannya dalam kurun waktu yang dekat, namun anak cucu kita yang akan kecipratan rejeki. Hahahaha. XD Ini juga berlaku terhadap perlakuan tak baik kita pada orang, dan itu sudah jelas digambarkan pada keadaan Zachary yang ditodong senjata tajam oleh salah seorang dari suku Kano.
                Saya tak tahu mau bahas apalagi. Flu yang menyerangku membuatku terbatas dalam berpikir secara Sherlock Holmes. Hahahaha. Movie ini yang bedurasi 2.52 ini memakan waktu cukup lama sampai saya selesai menontonnya, karena hal lain yang mengganggu. Hahaha.
                Kebingungan dan misteri yang ada pada movie ini adalah bukan hanya masalah timeline yang sering berpindah-pindah, namun karakter utamanya kadang  juga pindah sesuai time line-nya. Mungkin itulah posternya ada banyak orang yang hadir disana. Serta nama-nama yang banyak sekali dan jarang disebutkan siapa yang bernama siapa, ini yang membuat penonton serasa dipaksa melompat dari satu posisi karakter ke posisi lain. 

                Saya tak begitu ‘wuah’ pada movie ini. Rasanya datar banget. Entah kenapa meski movie ini mewakili pengungkapan efek akan sesuatu, namun tetap saja ada yang kurang. Saya beri nilai 8 dari 10. Tak bisa 9, ada beberapa yang saya ras kurang dalam hal ini, untung saja saya tak beri nilai 7, ini karena movie ini adalah movie indipenden dengan biaya termahal sepanjang sejarah. Serta usaha menggarap movie ini sampai selesai, saya bertahan memberinya nilai 8 dari 10.

             Bagaimana? Masih ada bagian yang membingungkan dan perlu pembahasan? Mari kita diskusikan bersama. Hehehe.


Jumat, 16 Januari 2015

ULASAN FILM/MOVIE PREDESTINATION





Berikut ini ulasan saya mengenai Predestination.
(Semalam nggak sempat posting, soalnya ketiduran. hehehe)

HARAP DIPERHATIKAN BAHWA CATATAN INI MENGANDUNG SPOILERS!!
BAGI YANG BELUM NONTON,
SEBAIKNYA MENGHINDARI CATATAN/ULASAN INI!!
JIKA TETAP MEMBACANYA, RESIKO DITANGGUNG SENDIRI!!!
(NONTONNYA JADI NGGAK ASYIK, CHOY!)

Baiklah. Bagi yang tetap keras kepala untuk membaca catatan ini dan belum menontonnya, saya angkat tangan! Itu pilihan kalian. Sama seperti dalam semua garis waktu atau timeline, eksistensi timeline manusia ada karna adanya pilihan dan keputusan manusia itu sendiri. So, Masih ingin tetap membaca catatan tentang Predestination ini walau belum nonton? Sebaiknya bacanya kalo sudah nonton saja, ya, soalnya akan lebih nikmat dan afdol, biar sama-sama tukar pendapat soal movie ini! 
:)

Ok, supaya nggak bingung ini karakternya:
Si Pelayan bar, Agen pelompat waktu-namanya tak pernah disebut, makanya hanya disebut Si Pelayan Bar. :3
Baru sadar, ya, dia nggak pernah sebut nama? Hahaha! XD

Jane a.k.a John, manusia dengan organ unik, berbekal organ pria dan wanita, setelah melahirkan, karna masalah kondisi yang tak mendukung, terpaksa uterus dan ovariumnya diangkat, lalu menjalani operasi bedah guna bertransformasi sebagai laki-laki. (saya tak mau bayangkan hal itu seperti apa! *bergidik)

Roberts, pria yang menjadi incaran John untuk dibunuh. Eksistensinya masih belum jelas bagi yang belum ngerti, tapi dia itu adalah John sendiri. Ia tercipta setelah Si Pelayan Bar menggila karna cinta yang kesepian dan rindu yang tak tersampaikan pada dirinya sendiri.

Si Fizzle bomber, adalah penciptaan masa depan yang terjadi akibat kegilaan Si Pelayan Bar, kemungkinan karakter ini terjadi setelah Robertson pensiun. Dan menggila menjadi Si Fizzle bomber, Si Pelayan bar tampaknya sama sekali nggak sadar kalau yang slama ini yang ditemui adalah dirinya sendiri. Ini terjadi kemungkinan karna ada 11 orang pelompat waktu. (Yah, bisa jadi itu Jane semuanya! Huahahaha) Dan, kemungkinan ada beberapa yang mengalami demensia, sehingga sulit mengingat apa yang telah terjadi.

Sooo, intinya, mereka semua adalah satu orang dari time line yang berbeda. Jangan pusing-pusing, deh! Hahahaha! XD

Here we go!!
Awalnya, saya dapat rekomendasi ini film dari sepupu. Yah, karna saya sudah nonton Interstellar, makanya heboh, deh. Trus, katanya Predestination lebih membingungkan lagi. Jujur saja, saya fine-fine aja kok habis ini dua movie. Dan sebenarnya nggak ada yang “wuah” bagi saya kalo soal time travel, time machine, paradox, dan timeline. Karna pada dasarnya genre semacam ini, bukannya hal logis yang jadi masalah utama, melainkan penerimaan yang diberikan dari penonton sendiri seperti apa. Inti dari time travel adalah:

“MENGUBAH MASA LALU DEMI MERUBAH MASA DEPAN.”

Hakekat masa lalu, masa kini, dan masa depan itu kalo disangkut pautkan dengan time travel sangat absur dan memiliki banyak opsi untuk penyebutannya, tergantung waktu yang terjadi di mana Si Time Traveler ‘main-main’ dengan peristiwa timeline. Yah, bisa jadi niatnya mengunjungi masa depan, malah merubah masa depan lainnya, hingga masa depan tadi berubah menjadi masa lalu. Bingung? Yah… saya juga. Tapi, intinya sederhana, kok, Sejarah manusia yang terjadi itu seperti arus air. Kemana air mengalir pada akhirnya akan kembali juga pada tempat semula, meski prosesnya panjang dan penuh medan untuk ditempuh. Istilah dalam Predestination, yaitu:

“The snake that eats its own tail, forever and ever.” 

Beberapa hal yang saya ambil dari Predestination, yah, itu tadi, kita NGGAK bisa merubah apa yang terjadi, seperti yang dikatakan oleh Jane a.k.a John (John, mengingatkanku pada serial TV favorite! John Smith! Nama samaran untuk THE DOCTOR! Hehehe kisahnya nggak jauh-jauh juga, kok. Mesin waktu gitu. :D  Rekomended banget bagi yang suka dengan hal-hal berbau sains dan mesin waktu! T.O.P banget!! XD ), dia mengatakan pada Si Pelayan bar:

“Yeah, but sometimes don't you think that things are just inevitable?”

Yah. Itu benar adanya, kadang-kadang hal-hal itu adalah hal yang tak dapat dielakkan saja. Terjadi begitu saja, dan kita tak punya rem untuk menghentikannya. Maka dari itu manusia dibekali dengan pilihan, pilihan yang akan menuntunmu menuju sebuah keputusan. Takdir? Sebagian orang mungkin berpikir demikian, tapi sesunguhnya itu adalah nasib. Takdir dan nasib. Ini berlaku bagi semua makhluk hidup di planet ini. Takdir terjadi diluar kehendak kita, sedang nasib terjadi karena dipengaruhi oleh diri kita sendiri. Sekiranya begitu menurutku secara pribadi. Menentukan apa yang terbaik bagi diri kita memang bukan sesuatu yang mudah. Manusia dibekali akal, pikiran, dan pilihan. Tapi, hasrat, ego, dan sifat serakah manusia adalah lawannya. Semua hal yang tercipta di dunia ini seimbang, tercipta berpasang-pasangan.

Kembali pada crita movie ini. Kesan pertama ketika melihat pembuka cerita movie ini, sempat ada beberapa option mengenai garis besar kisahnya. Tetap saja, yang namanya Time Travel, pastinya tentang masa lalu, masa lalu, dan masa lalu. Nggak akan pernah terpisah dari hal itu.Begitu juga dengan movie ini. :D

Option pertama saya ketika melihat pembukanya adalah, saya memikirkan hal tentang seseorang yang terluka karna cinta. YUP! 100% correct!! Kebanyakan time travel terjadi karna masalah klasik, “cinta”. Dan movie ini juga menyiratkan hal itu, dan menurutku movie ini lebih kepada kisah cintanya ketimbang time travelnya sendiri. Kenapa begitu? Baiklah, akan saya jelaskan dulu seperti apa movie ini menurutku secara panjang dan lebar.

Oh! Opsi kedua adalah seperti ending movie ini sendiri—saya sempat buka web yang bahas isi movienya, untung nggak kebaca semua, tapi sialnya, saya dapat beberapa kata yang memicu insting detektifku, jadinya movie-nya nggak terlalu misterius. Yang, sebenarnya, nggak terlalu “wuah” juga, tapi ini lebih baik dari Interstellar dari segi kerumitan cerita. Mungkin karena prosesnya melibatkan waktu yang cukup panjang dan emosi yang meluap-luap.

Ah! Baiklah! Cukup tentang opsi! Ok!
Predestination, garis besar kisahnya sudah tergambar jelas pada judulnya. Saya yang tak asing dengan time travel dan time machine, tanpa baca review-nya juga sudah tahu bakal seperti apa endingnya. Sangat klise. Mau bagaimana lagi? Inilah resiko time travel. Yang sekali lagi, masa lalu NGGAK bisa diubah. Titik.

Semula, saya berpikir bahwa Si time traveler berusaha mencari si Fizzle bomber pada misi terakhirnya (dan memang ya, hanya saja illegal), namun ternyata bukan. Ia sedang menciptakan dirinya sendirinya. Sangat ganjil dan sangat aneh. Ini seperti teka-teki: ayam atau telur duluan??? Jane a.k.a John, menjawab secara bergurau di Predestination: ayam jantan! Hahahaha! xD memang benar. Butuh pendonor untuk menciptakan sesuatu. :D

Pada mulanya, pertemuan dua orang asing ini yang notabene satu orang beda time line (Si Pelayan bar dan Jane aka John) membahas mengenai Si Fizzle Bomber dan menuju pada kisah hidup John. Saya sudah curiga pada Si pelayan bar yang tampaknya tahu siapa John. Entah dimaksudkan mengincar John atau Si Pelayan bar itu mengalami demensia gara-gara keseringan melompat waktu, saya masih bertanya-tanya. Atau, mungkinkah dia ke tahun itu berbekal taruhan dan untung-untungan saja mencari sosok dirinya sendiri? Yah, namanya time line, ada awal, ada akhir. Namun, dalam kasus ini, awal dan akhir itu relatif. Ayam dan telur. Hahaha. Ayam jantannya mana?? xD
Mungkin pertemuan di bar adalah titik awal semua time line yang terjadi, seperti kata Robertson pada Si Pelayan Bar:

“You must lay the seeds for the future.”
 –Kau harus meletakkan benih untuk masa depan. 

Alur kisah ini sebenarnya amat sederhana, namun sangat kompleks ketika terkait dengan time line dan time machine. Saya jadi berbicara berputar-putar, tapi apa daya, ini tentang mesin waktu, maka seperti itulah juga tulisan ini, hehehe.

Tema yang sangat kental dalam movie ini adalah CINTA. Time travel dan time machine hanyalah alat penyokong tersebut.

Seperti yang diketahui bahwa:

Si Pelayan bar adalah Si John sendiri yang berasal dari masa depan. Eksistensi Si Pelayan Bar tak akan ada jika ia tak menciptakan dirinya di masa lalu, maka diapun mendekati John, guna terciptanya masa depan. Ular yang memakan ekornya, tanpa ada ujung dan henti. Lingkaran tanpa awal dan akhir, seperti itulah time line yang coba di gambarkan dalam movie ini. Mungkin karna kedekatan dan pemahaman emosional yang ada dalam diri masing-masing makhluk berbeda waktu itu, maka terjadilah daya tarik emosional diantara mereka, atau lebih tepatnya dirinya sendiri. YUP! NARSIS! Movie ini mengajarkan tentang mencintai diri sendiri yang berlebihan. Mungkin karna Jane begitu kesepian dan terasing dari orang-orang lain, hingga dirinya-lah yang menjadi sandaran sendiri dan rasa kasih itu muncul ketika John akhirnya tahu bahwa lelaki yang disukainya dulu adalah dirinya sendiri ketika masih sebagai Jane. Rumit? Bagi yang blum nonton pasti, iya, tapi bagi yang sudah, pasti paham, walau sedikit. Kesepian dan kesendirian Jane yang terlukis jelas di matanya, membuat John jatuh cinta pada dirinya sendiri di masa lalu. Ia ingin melindungi dirinya dan memberikan cinta yang hanya dia tahu seperti apa cinta yang ia butuhkan. Kesamaan pola pikir dan pemahaman John terhadap Jane, membuat Jane, jatuh hati padanya. Kisah cinta terlarang dan tragis…. Haaaaaaa………:(

Sesungguhnya, nyawa dari kisah ini adalah kelainan fisik yang dialami oleh Jane sendiri. Jika saja ia tak memiliki kelainan seperti itu, maka mustahil time line-nya akan seperti itu, mustahil dirinya sendiri menghamili dirinya sendiri (?) (!) – yah…. Telur dan ayam, sekali lagi. Ayam jantannya mana, nih? Bang Toyib kali, ya, nggak pulang-pulang? Hahahaha XD
Teori dirinya menghamili dirinya sendiri, nggak dijelaskan secara detail di movie itu. Tapi kondisi fisiknya yang unik itu, mendukung teori ini. Robertson, saya duga adalah penciptaan dari sisi Si Pelayan Bar yang pada akhinya sadar setelah membunuh dirinya dari masa depan, bahwasanya dia sangat merindukan Jane a.k.a John a.k.a dirinya sendiri.

“I miss you dreadfully.”

Itu kutipan Si Pelayan Bar pada akhir movie ini. Dan karna ini adalah time line yang berperan, saya berpikir disinilah kegilaan Si Pelayan Bar muncul. Mungkin, dia sangat mencintai dirinya sendiri, namun tahu bahwa hal itu mustahil. Cinta yang mustahil, pada akhirnya akan berakhir tragis dan menyedihkan, tak ada opsi lain untuk cinta jenis ini. :’(

Dari situlah, ia mungkin mulai menciptakan Si Fizzle bomber. Melakukan tindakan pengeboman dan kekacauan dimana-mana. Mungkin dengan cara seperti itu, ia akan merasa dekat dengan Jane a.k.a John yang masih muda. Kejar-kejaran dan teka-teki antara Hero dan Villain, akan menciptakan sebuah hubungan khusus diantara mereka. Saling berpikir seperti apa yang akan dilakukan pihak lainnya, hal itu membuat mereka saling memahami dan mengerti satu sama lain. Ini lah mungkin yang menjadi alasan Si Fizzle bomber berkata pada Si Pelayan bar ketika bertemu:

“I had so much fun at preempting you, I did.
And now you're free and you found me, and we can be together.”

Yup! Misi Si Pelayan Bar masa depan a.k.a Si Fizzle Bomber itu sudah tercapai. Namun, ada hal-hal yang tak bisa dielakkan, bukan? Seperti kata-kata yang ia katakan pada dirinya sendiri pada dirinya yang masih muda dulu:
“What if I could put him in front of you? The man that ruined your life? If I could guarantee that you'd get away with it, would you kill him??
Dan seperti pada perkataan dirinya sendiri pada masa lalu sebagai John:

“In a heartbeat.”

Si Pelayan bar menembak Si Fizzle Bomber tanpa ragu sedikitpun. Dan lagi, dan lagi. Terciptalah Time line si Fizzle Bomber. Fiuuuhh!! Ada yang masih bingung???? Hahaha! Ini karna Si Pelayan bar sedang dalam keadaan takut. Ia takut pada masa depan yang telah ia lihat. Akal sehatnya tak jalan ketika hal buruk mengenai hal yang dibenci ternyata adalah dirinya sendiri.
Inti sebenarnya dari film ini bukanlah apa yang pertama yang terjadi, akan tetapi bagaimana hal itu bisa terjadi. Ini disebabkan karena di Dunia berlaku AKSI-REAKSI.

Kehidupan manusia, ya, seperti itu.

Hanya saja, ada beberapa hal yang sepertinya akan bertentangan dengan pendapat beberapa pakar fisika mengenai PARADOKS dalam movie ini. Saya setuju dengan alur dan kejadian yang terjadi dalam movie ini, bahwa apa yang terjadi, telah terjadi, biar bagaimanapun hal itu berusaha untuk diubah, meski mesin waktu yang berperan, tetap akan seperti itu juga. Kecuali Alternate Universe benar-benar ada, hanya itu kemungkinan kau berharap ada dirimu dengan versi lainya yang menjalani hidup dengan genre lain kehidupan. Biar bagaimanapun juga, kalau kau macam-macam dengan dirimu di Alternate Universe, hasilnya tetap saja akan begitu-begitu saja. Kau hanya akan jadi katalis dalam time line dirimu versi Alternate Universe.

Yah…. Kembali lagi pada intinya….

“Masa lalu tak bisa diubah”

Paradoks. Berbicara mengenai paradox nggak akan ada habisnya. Apalagi berkaitannya dengan time line dan time machine. Eksistensi sgala hal di alam semesta ini sudah ada pembagiannya masing-masing, sedikit saja berkurang atau bertambah (dalam hal ini partikel atom, atau yang lebih kecil lagi QUARK), maka balance atau keseimbangannya akan rusak. Terjadilah paradox alam semesta. Saya nggak bisa bilang kalau eksistensi Jane, john, Si Pelayan bar, si Fizzle bomber dan Roberston, adalah salah. Karena secara sains dan metodologi belum terbukti hal itu, mungkin ada faktor lain yang membuat eksistensi mereka ada pada waktu yang sama dan dari time line yang berbeda. Mungkin saja stigma mengenai tak boleh melihat diri sendiri pada waktu yang sama, dari time line berbeda yang merupakan paradox fatal, belum tentu benar. SEKALI LAGI BELUM TERBUKTI SECARA SAINS DAN METODOLOGI. Jadi, sah-sah saja jika kehadiran lima orang tersebut yang pada kenyataannya hanyalah satu orang itu bisa hadir dan bertemu dalam waktu dan tempat yang sama, meski dari time line yang berbeda.

Saya tak menyanggah paradox itu, namun, menurutku, semuanya ada ukuran dan keseimbangannya masing-masing. Yang di masa lalu, tetaplah di masa lalu, yang di masa kini, tetaplah dimasa kini, begitu juga masa depan. Jika paradox teori keseimbangan QUARK alam semesta berlaku, maka eksistensi Lima Manusia yang berbeda time line itu tak akan ada. Terlepas apakah ada paradox atau tidak, intinya saya menikmati movie ini. Paling enak nonton sendiri, deh.

Jika kalian perhatikan, Jane a.k.a John selayaknya adalah penggambaran akan masa lalu, Si Pelayan bar adalah masa kini, dan Si Fizzle bomber adalah masa depan. Robertson? Robertson adalah katalis dalam hal ini. Yup! Terlihat rumit, namun sangat sederhana. Untaian time line yang dibuat Si Pelayan bar itu ujung-ujungnya tak akan ada habisnya. (Hidup seperti itu, saya bakal lelah sendiri. Mungkin karna dia mencintai dirinya teramat sangat, ya, (baca: narsis overload level 9000), makanya ia bisa bertahan dan memiliki pegangan hidup. Entahlah.)

Huftttt…. Penyebab semua ini sebenarnya hanya satu dan sangat sederhana. Sekali lagi, CINTA.
Si Pelayan Bar dibutakan oleh cinta narsistiknya pada diri sendiri yang akhirnya membuahkan alur time line yang sangat melelahkan, sebenarnya. :(

Jika dibandingkan dengan Interstellar, Predestination, lebih mengarah pada bagaimana time line itu seharusnya terjadi, meski kau berusaha mengubahnya berkali-kali. Hasilnya tetap akan sama. Akan ada hal yang menuntunmu pada hasil akhir yang telah kau capai sebelumnya. Jadi, nggak usah, deh, mau rencana bikin mesin waktu buat rubah apa yang sudah terjadi, yang sebaiknya dilakukan adalah bagaimana kita bisa berdamai dengan diri sendiri dan menerimanya. Mesin waktu, pada hakekatnya hanyalah alat untuk bernostalgia belaka. Tak ada yang bisa diubah apa yang telah terjadi, yang ada hanya dirimu yang lebih mengerti lagi apa yang sedang terjadi pada dirimu. Berkata “Oh!” dan “Ya!” dalam hati.

Interstellar sendiri, meski tak sebagus Predestination dalam menyajikan time line yang agak memusingkan, sains yang ada dalam Interstellar memiliki nilai plus yang baik ketimbang Predestination. Paradoks yang ditampilkan Predestination, masih tampak tersembunyi dan penuh tanda tanya. Saya nggak akan heran, karna sekali lagi, ini time travel. Segalanya mungkin terjadi, tapi semua itu tak dapat dielakkan.Pilihan yang dibuat saat ini, harus bisa dipikir baik-baik sebelum akhinya menyesal.

Berikut beberapa hal yang menonjol dari movie ini:
1. Narsistik. Cinta diri itu perlu, tapi jangan berlebihan. Narsistik itu berbahaya!
2. Bagaimana menerima diri apa adanya.
3. Pilihan itu selalu ada dan nyata. Maka dari itu jangan terburu-buru mengambil keputusan, pertimbangkan secara baik-baik. Karena masa lalu tak bisa diulang. Jangan terburu hawa nafsu dan amarah sesaat.
4. Tanggung jawab itu perlu, ini terbukti Robertson sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi ia masih membimbing dirinya untuk menciptakan time line-nya (Atau lebih tepatnya egois, ya?). Mungkinkah dia takut eksistensinya akan hilang? Ataukah ia masih terobesi dengan cinta narsistiknya? Berharap dapat bersatu kemudia hari? Kalo dipikir-pikir, ia melakukan semua itu hanya pada dasar dua hal:
a. Eksistensi dirinya
b. Tanggung jawabnya pada diri sendiri.

Si Pelayan bar tampaknya tanpa sadar membeberkan dirinya yang akan menjadi Si Fizzle bomber dari kutipannya:

“And now that you've found her, you know who she is.
And you understand who you are. And now maybe you're ready to understand who I am.” 

Yah! Disinilah tujuan si Fizzle bomber menurutku telah tercapai! Dia membuat dirinya dari masa kini dan masa lalu saling memahami dan mengerti satu sama lain. Cintanya pun masih kuat. Itu dasarnya hingga ‘kemungkinan’, John tak menembak dirinya yang sebagai Si Pelayan Bar, maka keputusan yang diambil John, akan menciptakan Si Pelayan Bar itu sendiri.
Awalnya saya agak curiga pada Robertson, tapi saya simpan dulu dan tidak tergesa-gesa mengambil deduksi kalo dia adalah Si Pelayan bar itu sendiri. kecurigaan saya 50:50. Dan ketika ketika Si Fizzle Bomber mengaku bahwa Robertson adalah mereka sendiri atau tepatnya dirinya sendiri, saya nggak kaget. Karna sudah saya duga sebelumya. Malahan, saya senang! Hahaha! Nggak senang bagaimana juga, saya hanya menyesalkan keputusan Si Pelayan bar, karena dari kejadian ia menembak Si Fizzle Bomber, dia menciptakan Si Fizzle Bomber itu sendiri. Ada pertanyaan aneh lagi yang muncul. Itu artinya, apakah Robertson tahu selama ini bahwa Si Fizzle Bomber adalah dirinya sendiri? Ia lakukan demi lebih dekat lagi pada dirinya sendiri meski ia tahu bahwa pada akhirnya ia akan menembak dirinya sendiri?

Mungkinkah perkataan Robertson pada Si Pelayan bar berikut ini adalah pertanda bahwa ia sudah tahu semuanya dan memang merencakan semuanya???

“You must lay the seeds for the future.”
–Kau harus meletakkan benih untuk masa depan. 

Yup! Sepertinya memang begitu. Si Fizzle bomber juga menegaskannya waktu pertemuan mereka berdua di tempat laundry:

“We're just puppets. We are Robertson. He set the whole thing up. He played us for fools. He's laying out the dominoes. You know, we're just watching it fall.”

Keputusan yang diambil oleh Si Pelayan Bar dalam menembak Si Fizzle bomber, tidak langsung membuatnya menjadi Si Fizzle bomber sebenarnya, ia merubah dirinya menjadi Robertson. Ketika pencapaiannya Robertson tercapai, ia berubaha menjadi Si Fizzle bomber. Yang membuatku bingung, kapan sebenarnya Si Pelayan Bar memutuskan menjadi Si Fizzle Bomber? Apakah pada saat bersamaan dia memutuska menjadi SI Robertson atau tidak? Tapi, merujuk pada percapakan diatas, bahwa Robertson mengatur semuanya, bisa dipastikan ia memutuskan menjadi Robertson dan Si Fizzle bomber pada waktu yang sama. Hanya pelaksanaanya agak sedikit beda. Mungkinkah? Atau Robertson bertindak sebagai Tuhan untuk dirinya sendiri? Berlaku baik di depan, dan berlaku jahat di belakang? Bisa saja terjadi, karna pada dasaranya MASTER MIND dari kisah ini adalah karakter Robertson.

Hal yang menarik dari kelima orang yang jelas-jelas hanya satu. Bahwa manusia memiliki tanggung jawab yang perlu diemban. Kegigihannya dalam membuat time line untuk dirinya sendiri, tak bisa dia elakkan. Padahal ia memiliki pilihan. Tapi, apa daya, cinta menjadi katalis juga dalam hal ini. Robertson menciptakana time line dirinya sendiri, alih-alih menyampaikan rasa rindu tak tertahan pada dirinya sendiri pada masa lalu, Jane.

Cinta jenis ini sungguh merusak, sodara-sodara!
Betapa sifat narsistik itu sangat tidak baik!

Ngomongin and bahas movie ini nggak akan ada habisnya, deh! Saya salut dengan yang membuat movie ini. Kisahnya dikemas epic dan sangat baik. Saya sudah banyak menonton genre semacam ini, tapi kisah dan penyampaian time line yang di sajikan sungguh menarik. Dan terus terang saja, saya penganut teori ini. Sungguh lega pada akhirnya ada movie yang bisa menjelaskan bagaimana time line yang berusaha diubah memakai mesin waktu, yang pada akhirnya tetaplah seperti itu juga. Selama ini, blum ada movie yang bisa mengungkapkan teori saya mengenai pengaruh mesin waktu pada time line seseorang. Hadirnya Movie Predestination, membuat saya sedikit lega, akhirnya dari jutaan penduduk planet ini, ada juga yang memiliki konsep pemikiran yang sama. Hehehe. Dulu, saya rencana membuat novel dengan tema yang serupa, dan time line yang nyaris sama pula dengan efek yang sama pula. Hanya karena saya malas, eh, ke duluan orang lain. Hahaha. Tapi, saya sangat suka movie ini. Lebih suka daripada Interstellar-yang menarik karena ada ruang angkasanya.
Penasaran dengan novel yang dulu kubuat tapi nggak sempat selesai? Yup! Agak mirip sedikit. Alat mereka sama-sama jam tangan. Hahaha! Saya terinspirasi dari Ben10!! Hahaha!XD
Nama karakterku dulu adalah Lara. Yup. Lara, kalo nggak salah. Hahaha.

Kalo ada waktu, akan aku selesaikan, deh. Tapi, aku mesti cari dulu. Soalnya saya tulis di buku yang kini entah dimana keberadaannya. Hahaha. Dalam buku itu, ada dua kisah mengenai mesin waktu, pada dasarnya alat yang digunakan, ya, sama saja, Jam Tangan Mesin Waktu. Kenapa jam tangan? Soalnya simple dan mewakili waktu. Bukannya pesawat atau benda berat yang tak bisa digerakkan dari satu tempat ke tempat lain.

Banyak genre time travel yang menarik. Tapi tetap saja paradox akan tetap menyertainya. Teori Grandfather Paradoks pada movie ini sepertinya diabaikan. Ini terjadi karna keunikan dari Jane sendiri. Yang pada awal pembukaan dia ditelantarkan pada sebuah panti asuhan oleh seorang laki-laki yang wajahnya tak diketahui. Sangat kliseeeee!!!! :P

Apalagi jika terkait time travel. Saya nggak terkejut atau wuah banget, deh. Hanya senang saja ada yang bisa menjelaskan teori terjadinya suatu time line. Paradoks yang terjadi dalam movie ini sebenarnya adalah hal yang paling patut diperhatikan. Bukan masalah logis atau tidak. Logis tak ada dalam kamus time travel. Jadi, buang jauh-jauh hal itu.

Ratingnya masih lumayan, mungkin karena belum Internasional.
Perkiraanku, movie ini bakal hits dan populer seperti Interstellar.
Kebanyakan yang diperdebatkan kemungkinan adalah paradoks yang ada dalam movie ini sendiri. Orang-orang akan lupa tentang masalah penciptaan time line itu sendiri.
Padahal, pada dasarnya sebuah time line tercipta karena sebuah pilihan dan akan lahir sebuah keputusan.

Ok! Saya kasih rating 9/10! Sebenarnya kalo paradoksnya bisa diminimalir, saya bakal kasih 10. Tapi, karena paradoksnya masih jelas dan terang benderang. Cukup 9 saja. :)
Selamat berpusing ria, guys!
Hahaha!
:D

Jarang-jarang saya nonton film Australia yang menarik. Hehehe.

Mau liat rating dan komentar lainnya? Kunjungi:
http://www.imdb.com/title/tt2397535/

Directed by Michael Spierig, Peter Spierig. With Ethan Hawke, Sarah Snook, Noah Taylor, Madeleine West. The life of a time-traveling Temporal Agent. On his final assignment, he must pursue the one criminal that has eluded him throughout time.